Mencermati Terjadinya Musibah

Harian SOLOPOS (Jumat, 25 Januari 2012). Berbagai mushibah telah terjadi di negeri ini yang mengakibatkan banyak orang menderita karena kehilangan harta benda, bahkan termasuk kehilangan keluarga. Sudah sejak beberapa hari yang lalu sampai sekarang ini sedang terjadi mushibah banjir besar yang melanda Ibu Kota negeri ini, yang menimpa hampir seluruh warga masyarakat tanpa pandang bulu, kaya-miskin, pejabat maupun rakyat sehingga Istana Negara juga tidak luput dilanda mushibah banjir tersebut. “Dinyatakan Jakarta lumpuh”, Jakarta darurat banjir.

Orang nomor 1 DKI (Joko Widodo dari Solo) baru menjabat kurang lebih 100 hari sudah menghadapi tantangan berat, menghadapi banjir besar yang melanda wilayahnya. Beliau bekerja keras bersama pejabat lainnya dan masyarakat untuk mengevakuasi para korban banjir ke tempat yang lebih aman.

Menanggapi mushibah yang sering melanda Jakarta itu, maka timbul wacana untuk memindahkan Ibu Kota negeri ini ke daerah lain yang mungkin lebih aman. Pemindahan itu sebenarnya bukan satu-satunya jalan keluar yang tepat untuk mengatasi permasalahan. Yang harus dicari dan diatasi adalah penyebab timbulnya mushibah itu sendiri. Kalau penyebabnya malah tidak disentuh, akhirnya hanya akan meninggalkan suatu masalah dan membuat masalah baru lagi di tempat yang lain.

Sebenarnya ni’mat apasaja yang kamu peroleh itu adalah dari Allah SWT. Dan bencana apasaja yang menimpamu itu dari kesalahan dirimu sendiri [QS. An-Nisaa’ : 79].

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Suatu kaum yang telah diberi keni’matan oleh Allah, ni’mat itu tidak akan hilang atau dicabut lagi kecuali kaum itu sendiri yang menyebabkan hilangnya ni’mat tersebut (karena tidak bersyukur). [QS. Al-Anfaal : 53]

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

[621] Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.

Dengan ayat-ayat Allah tersebut seharusnya mengingatkan kita semua untuk sadar dan mensyukuri ni’mat yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita.

Selama 350 tahun bangsa ini dalam penderitaan karena dijajah oleh bangsa asing. Berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa (Allah SWT) bangsa ini diberi kemerdekaan, bebas dari cengkeraman bangsa asing. Disamping ni’mat kemerdekaan, bangsa ini juga diberikan oleh Allah negeri yang subur-makmur, berbagai macam hasil bumi, hasil laut, bahkan berbagai macam hasil tambang yang sangat besar.

Ni’mat tersebut mestinya kita syukuri, kita jaga dan kita kelola sebaik-baiknya, agar keni’matan ini bisa dirasakan oleh seluruh rakyat negeri ini, dari kota-kota besar sampai di pelosok-pelosok desa. Jangan malah kita berbuat kerusakan, berlaku serakah, sehingga keni’matan dari Allah tersebut hanya dirasakan oleh orang-orang tertentu saja, tidak merata bisa dirasakan oleh seluruh rakyat negeri ini, yang akhirnya berangsur-angsur ni’mat itu akan hilang (tercabut kembali).

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, agar  mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS. Ar-Ruum : 41].

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Mushibah banjir besar di Jakarta itu sebenarnya akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri. Oleh karena itu untuk mengatasi mushibah banjir yang berulang-ulang terjadi di Ibu Kota negeri ini bukan sekedar membuat tanggul dan mengeruk sungai Ciliwung, membuat sumur resapan dan sebagainya.

Memang itu semua diperlukan, tetapi sifatnya hanya sementara. Kalau mental manusianya tidak dibangun, tidak pandai mensyukuri ni’mat, kita terancam dengan adzab yang lebih besar dan lebih dahsyat lagi daripada mushibah banjir.

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu mensyukuri ni’mat, pasti Allah akan menambah ni’mat kepadamu. Dan jika kamu mengingkari ni’mat Allah (tidak bersyukur), maka sesungguhnya adzab Allah amat pedih. [QS. Ibrahim : 7]

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Semoga menjadi perhatian dan renungan bagi bangsa ini yang mempercayai ayat-ayat Allah, dan bagi seluruh bangsa di negeri ini.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)


One Response to “Mencermati Terjadinya Musibah”

  1. 1
    Ahmad Wahono Says:

    semoga kita semua termasuk orang2 yg banyak2 bersyukur

Leave a Reply