Hati-Hati Terhadap Kebohongan/ Pemalsu Kebenaran

16-12-2012-jihad-pagiHarian SOLOPOS (Jumat, 30 Nopember 2012). Kebohongan sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai hari qiyamat akan selalu ada. Dan kebohongan terhadap agama pun sering kita jumpai.

Oleh karena itu ummat Islam harus hati-hati dan waspada agar tidak tertipu oleh pembohong-pembohong tersebut.

Rasulullah SAW telah berpesan kepada kita agar berpegang kepada dua perkara yang ditinggalkan oleh beliau. Barangsiapa yang meyaqininya, maka tidak akan sesat, yakni Al-Qur’an dan Hadits. [HR. Malik]

 اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا مَسَكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيّهِ. مالك، فى الموطأ

Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 899]

Tentang Al-Qur’an kita ummat Islam harus yaqin seyaqin-yaqinnya, bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran muthlaq sejak diturunkan-Nya, yang tidak mungkin salah atau dipalsukan oleh pemalsu-pemalsu kebenaran, karena Allah sendiri yang menjaganya sampai hari qiyamat kelak. [QS. Al-Hijr : 9]

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya

 

Adapun tentang hadits, ummat Islam harus benar-benar selektif, karena tidak setiap yang dikatakan hadits Rasulullah itu benar dari beliau. Ada yang sebenarnya bukan dari Rasulullah SAW, tetapi ditulis dan dikatakan dari beliau. Itulah yang disebut hadits palsu.

Tidak sedikit ummat Islam yang terjebak dengan kepalsuan tersebut, dan meyaqini sepenuhnya bahwa itu dari Rasulullah SAW, maka tidak segan-segan untuk menda’wahkan ke masyarakat luas, yang akhirnya membawa kepada kesesatan yang tidak disadari. Di sini saya kemukakan salah satu contoh hadits palsu, (yang artinya) :

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada Bani Israil puasa sehari dalam satu tahun, yaitu pada hari ‘Asyura’, yaitu hari yang ke sepuluh di bulan Muharram, maka berpuasalah kalian (ummat Islam) pada hari itu dan berilah kelonggaran nafqah untuk keluarga pada hari itu, karena barangsiapa memberikan kelonggaran nafqah pada keluarganya dari hartanya pada hari ‘Asyura’, Allah akan meluaskan rezqinya pada tahun itu. Maka berpuasalah kalian pada hari itu, karena pada hari itu Allah telah menerima taubatnya Nabi Adam. Pada hari itu Allah mengangkat Nabi Idris ke tempat yang tertinggi. Pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api. Pada hari itu Allah Allah mengeluarkan Nabi Nuh dari kapal, Pada hari itu Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa. Pada hari itu Allah menebusi (mengganti) Nabi Isma’il dari sembelihan. Pada hari itu Allah mengeluarkan Nabi Yusuf dari penjara. Pada hari itu Allah mengembalikan penglihatan Nabi Ya’qub. Pada hari itu Allah menghilangkan bala’ (penderitaan) Nabi Ayyub. Pada hari itu Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan. Pada hari itu Allah membelah laut untuk Bani Israil. Pada hari itu Allah mengampuni dosa Nabi Muhammad, yang terdahulu maupun yang akan datang. Pada hari itu Nabi Musa menyeberang laut (Merah). Pada hari itu Allah Ta’aalaa menurunkan taubat kepada kaumnya Nabi Yunus. Maka barangsiapa puasa pada hari itu, akan menjadi kaffarah (penebus dosa) selama empat puluh tahun. Pertamanya hari Allah menciptakan dunia ini adalah hari ‘Asyura’. Pertamanya turun hujan dari langit adalah hari ‘Asyura’. Pertamanya rahmat turun adalah hari ‘Asyura’. Maka barangsiapa puasa ‘Asyura’, seolah-olah ia puasa satu tahun penuh. Dan itu adalah puasanya para Nabi. Barangsiapa yang menghidupkan malam ‘Asyura’, seolah-olah ia beribadah kepada Allah Ta’ala seperti ibadahnya penghuni langit yang tujuh. Barangsiapa yang shalat empat rekaat, dan setiap rekaat membaca Al-Fatihah satu kali, dan membaca Qul huwalloohu ahad lima puluh kali, maka Allah mengampuni dosanya lima puluh tahun yang lalu dan lima puluh tahun yang akan datang, dan Allah akan membangunkan untuknya satu juta mimbar dan cahaya di tempat yang tertinggi. Barangsiapa memberi minum seteguk air, maka seolah-olah ia tidak pernah berma’shiyat kepada Allah, walaupun sekejap mata. Barangsiapa memberi makan sampai kenyang pada keluarga orang-orang yang miskin pada hari ‘Asyura’, ia akan melewati shirath secepat kilat. Barangsiapa bersedekah dengan satu sedekah pada hari ‘Asyura’, maka seolah-olah ia tidak pernah menolak orang yang meminta. Barangsiapa mandi pada hari ‘Asyura’, maka ia tidak pernah sakit melainkan sakit ketika akan mati. Barangsiapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura’ maka pada tahun itu pandangan kedua matanya tidak akan kabur. Barangsiapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, maka seolah-olah ia berbuat baik kepada semua anak yatim anak Adam. Barangsiapa berpuasa pada hari ‘Asyura’ maka Allah akan memberi pahala sepuluh ribu malaikat. Barangsiapa berpuasa pada hari ‘Asyura’ maka Allah akan memberi pahala seribu hajji dan ‘umrah. Barangsiapa puasa pada hari ‘Asyura’, maka Allah akan memberi pahala seribu orang yang mati syahid. Barangsiapa berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka dicatat untuknya pahala (sebesar) tujuh langit. Pada hari itu Allah menciptakan langit, bumi, gunung dan laut. Allah menciptakan ‘Arsy pada hari ‘Asyura’, menciptakan qalam (pena) pada hari ‘Asyura’, menciptakan Al-Lauhul Mahfudh pada hari ‘Asyura’, menciptakan malaikat Jibril pada hari ‘Asyura’, mengangkat Nabi ‘Isa pada hari ‘Asyura’, memberikan kerajaan kepada Nabi Sulaiman pada hari ‘Asyura’. Hari qiyamat akan terjadi pada hari ‘Asyura’. Dan barangsiapa menjenguk orang sakit pada hari ‘Asyura’, maka seolah-olah ia menjenguk orang-orang yang sakit dari anak Adam semuanya. [Diambil dari kitab “Al-Maudluu’aat oleh Al-Imam Abul Faraj ‘Abdur Rahman bin ‘Aliy bin Al-Jauziy, Al-Qurasyi juz 2, hal. 200, hadits ini palsu]

Dilihat isinya saja sudah tampak kepalsuannya. Diantaranya disebutkan : Barangsiapa yang shalat empat rekaat, dan setiap rekaat membaca Al-Fatihah satu kali, dan membaca “Qul huwalloohu ahad” lima puluh kali, maka Allah mengampuni dosanya lima puluh tahun yang lalu dan lima puluh tahun yang akan datang, dan Allah akan membangunkan untuknya satu juta mimbar dan cahaya di tempat yang tertinggi (surga). Juga yang lain-lain yang diterangkan dalam hadits itu.

Demikianlah, semoga bermanfaat untuk kita semua lebih hati-hati dalam beragama, agar tidak tertipu oleh pemalsu kebenaran.

Al-Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)


4 Responses to “Hati-Hati Terhadap Kebohongan/ Pemalsu Kebenaran”

  1. 4
    hartini Says:

    kebohongan terbesar adalah bohong pada Allah dan diri sendiri, pahit dirasa dan berat tuk diamalkan tapi inilah esensi keimanan kepada kebersamaan Allah dengan kita setiap saat

  2. 3
    pardiyanto Says:

    Sayang, masih banyak umat yang belum tahu dan masih mengamalkan hadis dlaif maupun palsu.

  3. 2
    bay eff Says:

    Lebih berhati-hati dalam mempelajari agama, termasuk dalam menerima sebuah hadits

  4. 1
    Muhammad Says:

    Semoga kita semua tidak termasuk orang-orang yang rugi

Leave a Reply