Petunjuk Memilih Pemimpin

Sidak Kapolda Jateng Menjelang Peresmian Gedung MTA di Solo
Memilih pemimpin sangat strategis untuk menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemimpin yang baik akan membawa rakyatnya menuju kesejahteraan hidup dunia akherat. Sayang sekali banyak orang yang mensikapi pemilihan pemimpin dengan acuh tak acuh. Terbukti dari besarnya ketidak hadiran dalam pemilihan dan banyaknya orang yang hanya sekedar mencoblos kertas suara.

Ada 3 kriteria pemimpin yang layak kita pilih.

Yang pertama adalah amanah. Rasulullah saw pernah berwasiat: ”Ketika amanat disia-siakan maka tunggulah saat kehancurannya.” Sahabat bertanya: ”Bagaimana menyia-nyiakan amanat itu ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Ketika amanat diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Ahli disini bisa bermakna orang yang cerdas dan trampil dalam menunaikan amanah. Namun juga bisa bermakna orang yang memang berhak untuk menerima amanah. Untuk itu teliti betul bakal calon pemimpin yang hendak dipilih apakah dia benar-benar amanah. Sisihkan dari daftar pilih orang-orang yang terbukti tidak amanah dan tetapkan pilihan untuk bakal calon pemimpin yang paling kuat memegang amanah.

Disamping amanah seorang pemimpin sebagai pembesar suatu kaum harus memiliki paradigma berfikir sebagai seorang pelayan, tidak sebaliknya merasa dirinya sebagai seorang penguasa. Kabirul-qaum Khadimuhum, pembesar suatu kaum itu hakekatnya adalah pelayan mereka. Ketika seseorang merasa dirinya sebagai seorang pelayan, maka dia akan berfikir : “Apa yang bisa saya perbuat untuk rakyat dan apa yang bisa saya persembahkan untuk kesejahteraan mereka?”

Dalam keseharian orang seperti ini akan sibuk memikirkan kepentingan rakyat dan siap mengalahkan kepentingan pribadi atau golongan untuk rakyat. Sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah saw sebagai pemimpin umat yang kekuasaannya lebih besar dari raja dan kaisar, tetapi selalu hidup dalam kesederhanaan. Tidak memiliki singgasana, tidur dengan beralas daun kurma, bahkan sering lapar meski tidak berpuasa. Tapi untuk kepentingan rakyatnya, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta.

Para pemimpin yang merasa sebagai pelayan umat akan sedikit bicara banyak bekerja, suka mendengarkan saran, tidak mundur karena celaan dan tidak maju karena pujian. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sebagai penguasa akan selalu menuntut untuk dilayani. Sebagai penguasa dia merasa berhak untuk mendapatkan perlakuan istimewa. Bahkan kalau ada yang kurang disuka, dia akan mudah tersinggung dan marah.

Akibatnya dia akan banyak bicara, tapi hanya sedikit bekerja. Agar pemilu yang akan datang lebih berdaya guna dan berhasil guna, maka kita perlu berikan dukungan kita hanya kepada para pemimpin yang siap menjadi pelayan masyarakat. Hanya kepada mereka kita bisa berharap akan adanya perubahan menuju perbaikan kesejahteraan rakyat.

Kriteria terakhir yang mesti kita pertimbangkan adalah bahwa seorang pemimpin itu harus faham bahwa dirinya akan bertanggung-jawab kepada Allah swt atas apa yang dipimpinnya. Tidak hanya merasa bertanggung jawab kepada DPR atau DPRD, tidak hanya merasa bertanggung jawab kepada atasan atau bawahan, tetapi kepada Allah swt. Pertanggung jawaban seorang pemimpin itu tembus sampai akherat.

Kullukum ra’in wa kullukum mas-ulun ‘an ra’iyyatih (Kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.) Pertanggung jawaban kepada atasan di dunia ini bisa disiasati retorika bahasa dan manipulasi data. Tanggung jawab kepada bawahan bisa dikhianati intimidasi dan tangan besi. Sedang tanggung jawab kepada Allah, siapa yang mampu mensiasati dan mengkhianati? Pengadilan di hadapan Allah swt benar-benar tegak dan bersifat final. Tegak dalam arti adil, tidak ada kesalahan dan tidak ada kecurangan. Bersifat final dalam arti tidak ada banding, tidak ada kasasi, dan tidak ada peninjauan kembali.

Jauh berbeda dengan pengadilan di dunia yang bisa dibeli dengan harta dan bisa dibelokkan dengan ancaman. Seorang pemimpin yang merasa bertanggung jawab terhadap Allah swt akan berlaku lurus, tidak belok sana belok sini, karena dia sadar bahwa kemanapun dia melangkah pengawasan Allah selalu menyertainya. Dia juga akan cenderung berlaku adil karena dia faham amal shaleh atau thaleh sekecil apapun akan diperlihatkan balasannya. Dia yakin benar bahwa seluruh aspek kehidupannya kan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya.

Untuk itu dalam mensikapi berbagai Pilkada dan Pemilu umat Islam jangan terkecoh oleh simbol, bendera, dan nama partai. Jangan pula tertipu oleh retorika bahasa. Yang penting realita, bukan retorika. Memilih pemimpin karena partai bisa menyebabkan kita jatuh ke dalam ashshobiyyah yang berbau syirik. Apalagi kalau wakil-wakilnya tidak amanah, tidak suka melayani, dan tidak merasa bertanggung jawab kepada Allah. Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita untuk memilih pemimpin yang terbaik demi perbaikan kesejahteraan bangsa dunia akherat. Amin


8 komentar pada “Petunjuk Memilih Pemimpin

  1. ya karena kita tinggal di negara republik yang ada undang-undangnya sebagai hukum untuk mengatur…toh kita sebagaì muslim kita diwajibkan untuk maksimal dalam beribadah..tapi juga sebagai warga negara yang baik kita taat hukum untuk keharmonisan hidup bermasyarakat.ingat indonesia bukan negara islam,cuma mayoritas penduduknya islam…itupun yang bener bener ngerti islam(paham al qur’an-sunah)berapa persen?sedikit to?moga kita termasuk yg sedikit

  2. Saya yakin ada pemimpin seperti kriteria di atas, tapi kalo nanti udah duduk di MPR atau DPR atau DPD kebijakan yang diambil berdasarkan suara terbanyak, berarti di sini kebenaran diukur dari banyaknya suara terbanyak di majelis. Itulah fakta demokrasi. Padahal kebenaran adalah yang berasal dari Alloh Swt semata. Contoh: Poligami dibolehkan oleh Alloh swt, tapi kalo dalam demokrasi bisa dilarang ketika suara terbanyak menghendaki larangan untuk poligami. Jadi mengapa masih aja mendukung demokrasi ?

  3. untuk tuntunan solat di mohon di buatkan dvd agar mudah untuk belajar, soalnya dengan buku tuntunan solat belajarnya agak sulit. saya kira peminat nya banyak

  4. memilih peminpin negara ini kriterianya sama seperti aku memilih calon suami buatku?BERAT kriterianya…kalau tidak ada yo…pasti ada yang kriterianya mendekati to,nah itu yang ku pilih,tentu sesuai Alqu’an dan sunah biar ‘SELAMAT’

  5. selain 3 kriteria di atas..aku sih suka pemimpin yang pandai dan banyak bersyukur…bukan pandai bersyukur dan banyak bersyukur karena setelah dipilih…tapi dia adalah sosok yang selalu berkomunikasi dengan jiwa dan raganya,dalam waktu lapang dan sempit.tentu sosok kriteriaku ini akan melangkah dengan penuh perhitungan..agar setiap keputusan dan tindakan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan ALLAH.pemilu 5th sekali,JANGAN SALAH PILIH,resikn men

  6. Sebagian umat lain, mengatakan pemilu bukan dari Islam dan menyalahi syariat…saya pribadi labeih setuju..inilah “jalan yang baru bisa dilakukan”..jadi pilihlah yang terbaik..dan jangan golput..kecuali memang semua calon2 itu nggak benar semua.

    tapi masak sih..dari segitu banyaknya nggak ada yang berpotensi OK ?!

  7. Memilih Pemimpin yang memiliki tiga kriteria tersebut memang gampang-gampang susah, gampang apabila kita sudah mengenal kepribadianya dari pergaulan sehari-hari, susahnya apabila sudah masuk dalam suatu golongan walaupun kita sudah mengenal kepribadiannya tidaklah dapat amanah karena tidaklah mungkin akan mengindahkan kepentingan golongannya, apalagi tahu-tahu kita disodori calon-calon pemimpin yang notabene tahu/mengenal orangnyapun tidak, trus bagaimana kita memilih ya… ?

Beri Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *